Amman Mineral Rugi Rp2,9 Triliun pada Kuartal III 2025: Smelter Terganggu dan Larangan Ekspor Tekan Penjualan
Amman Mineral (AMMN) mencatat rugi US$178,53 juta pada kuartal III 2025 akibat penghentian smelter dan larangan ekspor konsentrat. Analis melihat peluang pemulihan pada 2026.

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membukukan rugi bersih US$178,53 juta (sekitar Rp2,96 triliun dengan kurs asumsi Rp16.635 per dolar AS) pada kuartal III 2025, terbalik dari posisi laba pada periode sama tahun sebelumnya. Penurunan kinerja ini dipicu oleh margin yang menyusut dan anjloknya volume penjualan setelah kombinasi gangguan teknis di smelter serta kebijakan larangan ekspor konsentrat yang membatasi opsi penjualan perusahaan.
Kondisi keuangan Amman Mineral hingga Kuartal III 2025
Kinerja keuangan Amman Mineral menurun drastis sepanjang tahun berjalan. Penjualan bersih perseroan turun 78,1% secara tahunan menjadi US$545,33 juta pada kuartal III 2025, dari US$2,49 miliar pada kuartal yang sama tahun 2024. Laba kotor pada semester I 2025 juga terpukul, menyusut sekitar 93% menjadi US$55,7 juta dari US$851,89 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA pun merosot 81% YoY menjadi US$279 juta, jauh dari posisi US$1,48 miliar pada kuartal III 2024.
Penurunan ini berujung pada rugi bersih US$178,53 juta yang dilaporkan manajemen. Angka-angka tersebut menunjukkan tekanan signifikan pada arus kas dan profitabilitas perusahaan tambang yang sebelumnya mencatat margin kuat ketika produk konsentrat dapat diekspor secara leluasa.
Penyebab: gangguan smelter dan larangan ekspor konsentrat
Manajemen mengaitkan kontraksi kinerja dengan dua faktor utama. Pertama, operasi smelter perusahaan dihentikan sementara pada Juli dan Agustus 2025 untuk perbaikan pada Flash Converting Furnace dan Pabrik Asam Sulfat — dua komponen krusial dalam proses pengolahan tembaga. Presiden Direktur Amman Mineral, Arief Sidarto, menyatakan bahwa perbaikan komponen-komponen utama yang kompleks itu "diperkirakan akan berlanjut hingga paruh pertama 2026." Ia mengatakan, "Smelter perusahaan mengalami penghentian operasi sementara pada Juli dan Agustus 2025 karena perbaikan pada Flash Converting Furnace dan Pabrik Asam Sulfat."
Kedua, kebijakan larangan ekspor konsentrat yang diberlakukan pemerintah sejak awal 2025 memaksa perusahaan untuk mengubah saluran penjualan—dari ekspor konsentrat ke pemasaran produk hilir seperti katoda tembaga dan emas murni. Pembatasan ini memang dimaksudkan untuk mendorong pengolahan dalam negeri, tetapi di sisi operasional dan keuangan berdampak pada fleksibilitas pemasaran dan marjin bagi perusahaan yang sebelumnya bergantung pada penjualan konsentrat ke pasar internasional.
Reaksi pasar dan rekomendasi analis
Meskipun laporan kuartalan menunjukkan tekanan, beberapa analis melihat peluang pemulihan jangka menengah. Phintraco Sekuritas memulai ulasan untuk saham AMMN dengan rekomendasi beli dan target harga Rp8.700 per saham. Dalam penilaiannya, analis menyatakan, "Kami merekomendasikan beli untuk AMMN dengan nilai wajar yang diperkirakan sebesar Rp8.700 per saham," menekankan metode penilaian berupa arus kas yang didiskontokan dan valuasi relatif.
Phintraco memperkirakan normalisasi aktivitas penambangan dan pemulihan produksi pada 2026 akan mendorong kenaikan volume penjualan, penyerapan biaya tetap yang lebih baik, serta penurunan biaya per unit. Data pasar pada 19 Februari 2026 menunjukkan harga saham AMMN menutup di level Rp7.675, menguat 1,99% pada hari itu dan tercatat telah naik 19,46% year-to-date, merefleksikan ekspektasi investor terhadap pemulihan ke depan.
Namun, analis juga mengingatkan sejumlah risiko, termasuk potensi penundaan atau performa produksi Fase 8 yang kurang optimal, volatilitas harga tembaga dan emas, serta risiko pelaksanaan proyek hilir yang bisa menekan margin dan arus kas.
Prospek Fase 8 dan tantangan ke depan
Amman Mineral menyatakan bahwa total cadangan mineral untuk Fase 8 mencapai sekitar 460 juta ton, yang diproyeksikan dapat memperpanjang umur tambang hingga 2030. Transisi ke Fase 8 dianggap sebagai salah satu katalis untuk pemulihan produksi dan pendapatan perseroan. Phintraco menilai realisasi Fase 8 akan membantu pemulihan margin dan profitabilitas pada 2026 ketika aktivitas penambangan dan pemrosesan kembali normal.
Meski demikian, terdapat kendala teknis dan risiko kebijakan yang harus diantisipasi. Perbaikan komponen smelter yang memakan waktu hingga paruh pertama 2026 mengurangi kapasitas pengolahan sementara, sedangkan kebijakan larangan ekspor konsentrat tetap bergantung pada keputusan regulator yang bisa berubah. Selain itu, ketergantungan pada harga komoditas global membuat prospek pendapatan rentan terhadap fluktuasi pasar internasional.
Investor yang menilai saham AMMN harus mempertimbangkan skenario pemulihan operasional di satu sisi dan risiko eksekusi serta kebijakan di sisi lain. Rekomendasi Phintraco yang menempatkan target Rp8.700 mengimplikasikan ekspektasi perbaikan kinerja, tetapi disertai catatan bahwa realisasi target itu bergantung pada efektivitas pemulihan operasional dan kondisi pasar komoditas.
Mendekati 2026, fokus utama Amman Mineral akan tertuju pada penyelesaian perbaikan smelter, pemulihan kapasitas produksi, dan adaptasi terhadap aturan hilirisasi yang mempengaruhi jalur penjualan. Perkembangan selanjutnya, termasuk capaian produksi Fase 8 dan respons kebijakan ekspor, akan menjadi indikator penting bagi investor dan pemangku kepentingan untuk menilai prospek jangka menengah perusahaan.
Di tengah tantangan, manajemen dan analis sama-sama mencatat potensi pemulihan jika perbaikan teknis selesai tepat waktu dan kondisi pasar mendukung peningkatan harga serta volume penjualan. Sementara itu, pengawasan terhadap realisasi teknis dan kebijakan tetap menjadi aspek krusial yang akan menentukan apakah Amman Mineral mampu kembali ke jalur profitabilitas dalam beberapa kuartal ke depan.
Artikel Terkait

Harga Emas Antam Turun Jadi Rp 2.943.000 per Gram: Implikasi untuk Investor dan Pembeli Ritel
Harga emas Antam turun menjadi Rp2.943.000 per gram, turun Rp53.000 pada Kamis menurut laman Logam Mulia. Berita ini relevan bagi investor dan pembeli ritel emas.
Pembagian Dividen BBRI Diprediksi Naik: Ruang Lebih Besar Berkat CAR yang Kuat
BRI menyatakan punya ruang untuk menaikkan pembagian dividen BBRI karena modal kuat (CAR 23,53% per akhir 2025). Interim dividen Rp137 per saham telah dibayarkan pada Januari 2026.

Promo Superindo: Daftar Diskon JSM & Penawaran Khusus Menjelang Lebaran 2026
Superindo menghadirkan promo JSM periode 13-15 Maret 2026 dengan diskon hingga 45% serta penawaran khusus menjelang Idul Fitri, termasuk Nivea Body Serum Rp24.900.

Torino Bergerak: Industri Tumbuh, Tapi Produktivitas dan Nilai Tambah Belum Melesat
Laporan bersama Centro Einaudi, Ui Torino, dan Kamar Dagang menunjukkan industri Torino menunjukkan pertumbuhan dan diversifikasi, tetapi masih butuh lonjakan produktivitas dan nilai tambah.