Ekonomi

Bursa Korea Selatan Rontok 18% dalam Dua Hari, Kekhawatiran Perang Iran Picu Aksi Jual

Indeks Kospi Korea Selatan turun total sekitar 18% dalam dua hari perdagangan setelah kekhawatiran meluasnya perang Iran dan lonjakan harga minyak memicu aksi jual besar-besaran.

Bursa Korea Selatan Rontok 18% dalam Dua Hari, Kekhawatiran Perang Iran Picu Aksi Jual

Bursa saham Korea Selatan mengalami kejatuhan tajam yang membuat indeks Kospi merosot sekitar 18 persen dalam dua hari perdagangan, menandai koreksi terdalam sejak krisis keuangan global 2008. Penurunan yang dipicu oleh kekhawatiran meluasnya perang Iran dan lonjakan harga minyak menyebabkan perdagangan sempat dihentikan dan memukul saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya mendorong reli pasar.

Kronologi kejatuhan pasar

Gelombang penjualan terjadi pada awal Maret ketika sentimen risiko global memburuk. Pada Rabu, 4 Maret 2026, Kospi kembali jatuh sekitar 11 persen setelah sehari sebelumnya turun 7,2 persen, sehingga total penurunan mencapai hampir 18 persen dalam rentang dua hari. Mengutip laporan, perdagangan di Kospi dan Kosdaq sempat dihentikan selama sekitar 20 menit setelah indeks menyentuh ambang batas penurunan sebesar 8 persen.

Aksi jual tidak hanya terjadi pada saham-saham kecil; sentimen tertekan terutama menimpa saham-saham besar seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Hyundai Motor yang selama ini menjadi motor reli. Sebelumnya, Kospi sempat melesat hampir 50 persen pada puncak reli tahun ini, menjadikannya salah satu pasar dengan kinerja terbaik di dunia sebelum koreksi besar ini.

Dampak terhadap perusahaan dan investor di Korea Selatan

Koreksi tajam membawa dampak langsung pada perusahaan-perusahaan besar dan investor ritel. Saham-saham berkapitalisasi besar yang memimpin reli AI dan kenaikan permintaan chip memori kini menjadi fokus likuidasi. Lonjakan biaya energi akibat kenaikan harga minyak menjadi tekanan tambahan terhadap prospek laba korporasi, terutama bagi industri padat energi.

Analis dan pelaku pasar mencatat bahwa tingginya eksposur investor ritel turut memperparah penurunan. Seorang kepala eksekutif manajemen aset di Seoul, An Hyungjin dari Billionfold Asset Management Inc, mengatakan, "Pergerakan harga terlalu ekstrem sehingga peramalan terasa hampir mustahil, analisis pun tidak banyak membantu." Pernyataan ini menggambarkan betapa pasar berada dalam kondisi sangat volatile. Kumparan juga melaporkan adanya pembelian saham secara kredit dalam jumlah besar, dengan margin deposit yang relatif kecil—sekitar 30%-40%—yang meningkatkan risiko likuidasi ketika harga berbalik.

Pemicu utama: perang Iran dan lonjakan harga minyak

Salah satu pemicu sentimen negatif adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, yang menyebabkan kekhawatiran meluasnya perang dan melonjaknya harga minyak global. Liputan media melaporkan bahwa kekhawatiran soal perang Iran memicu pembukaan pasar yang anjlok tajam; Kospi sempat turun hampir enam persen pada pembukaan sesi tertentu sebelum tekanan semakin dalam.

Korea Selatan, sebagai salah satu konsumen minyak mentah terbesar di dunia, dianggap rentan terhadap lonjakan harga energi. Kenaikan biaya energi dapat menekan margin produsen dan meningkatkan beban biaya impor, sehingga berdampak negatif pada proyeksi laba perusahaan serta nilai tukar. Ketergantungan pada pasokan energi impor menjadikan ekonomi dan pasar modal Korea Selatan sensitif terhadap gejolak geopolitik yang memengaruhi harga minyak.

Risiko margin dan prospek pemulihan pasar

Salah satu faktor struktural yang memperburuk aksi jual adalah tingginya penggunaan leverage oleh investor ritel sebelum koreksi. Data pasar menunjukkan utang margin sempat mencapai rekor tertinggi menjelang aksi jual, mencerminkan agresivitas pembelian dengan menggunakan pembiayaan. Ketika harga berbalik turun, posisi yang dibiayai margin dapat memicu likuidasi paksa dan mempercepat penurunan harga.

Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar profesional cenderung melakukan hedging dan memilih saham berkualitas, tetapi seperti dikatakan An Hyungjin, kondisi pasar yang bergerak ekstrem membuat pemilihan strategi menjadi sulit. Pemulihan akan bergantung pada beberapa faktor: meredanya ketegangan geopolitik yang memicu lonjakan minyak, stabilisasi arus modal global, serta sejauh mana perusahaan besar mampu menunjukkan ketahanan kinerja meskipun tekanan biaya meningkat.

Bank sentral dan regulator pasar juga memiliki peran penting untuk meredam volatilitas—misalnya lewat kebijakan likuiditas atau aturan perdagangan yang menahan gelombang jual. Namun, langkah-langkah tersebut biasanya bersifat sementara dan efektivitasnya bergantung pada apakah sentimen global dapat kembali tenang.

Pasar ke depan diperkirakan masih akan menyisakan ketidakpastian. Reli yang didorong tema teknologi dan AI sebelumnya menarik banyak modal ritel, sehingga koreksi dalam skala besar ini juga mencerminkan penyesuaian valuasi setelah lonjakan harga yang masif. Investor institusional dan ritel kini menghadapi dilema antara mencari titik nilai wajar baru atau menunggu stabilitas pasar.

Koreksi pasar saham ini menjadi pengingat bahwa pasar yang naik cepat karena tema tertentu, seperti AI dan permintaan chip, tetap rentan terhadap faktor eksternal seperti geopolitik dan harga komoditas. Bagi investor, pengelolaan risiko—termasuk penggunaan margin yang bijak—menjadi kunci untuk menahan guncangan di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.

Masa depan jangka pendek pasar Korea Selatan akan sangat bergantung pada perkembangan di kawasan Timur Tengah dan pergerakan harga minyak global. Sementara itu, pelaku pasar di Seoul dan investor internasional akan terus memantau laporan korporasi, data ekonomi, dan kebijakan regulator sebagai indikator apakah koreksi ini akan mereda atau berlanjut ke penyesuaian yang lebih dalam.

#korea selatan#kospi#bursa saham#minyak#iran

Artikel Terkait