Ekonomi

IHSG Rebound ke 7.443, Trump Isyaratkan Perang Iran Hampir Usai dan Minyak Merosot

IHSG rebound ke 7.443 setelah Trump mengisyaratkan perang dengan Iran hampir selesai, memicu penguatan bursa global dan penurunan tajam harga minyak dari level $120 menuju $90 per barel.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil rebound dengan kenaikan signifikan, dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengisyaratkan bahwa operasi militer terhadap Iran sudah mendekati penyelesaian. Pergerakan positif ini mengikuti tren penguatan bursa global yang terjadi pada awal pekan, setelah pasar sempat tertekan hebat akibat eskalasi konflik Timur Tengah dalam dua pekan terakhir.

IHSG Dibuka Menguat Lebih dari Satu Persen

IHSG dibuka menguat 105,68 poin atau 1,44 persen ke posisi 7.443,05 pada perdagangan Selasa (10/3). Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga ikut naik 9,98 poin atau 1,33 persen ke posisi 760,56. Penguatan IHSG ini merupakan sinyal positif bagi pelaku pasar yang sempat khawatir akan dampak berkepanjangan dari konflik geopolitik terhadap kinerja pasar modal domestik.

Pada perdagangan berikutnya, Rabu (11/3), IHSG kembali dibuka menguat 43,86 poin, melanjutkan momentum rebound yang dimulai sehari sebelumnya. Harapan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah akan segera mereda terus menjadi sentimen positif yang menopang pergerakan indeks.

Trump: Operasi Militer "Very Complete"

Pemicu utama penguatan bursa global termasuk IHSG adalah pernyataan Donald Trump bahwa operasi militer AS terhadap Iran sudah "very complete". Trump juga mengungkapkan bahwa konflik berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan awal yang sempat memproyeksikan durasi 4–5 minggu. Pernyataan ini mengejutkan banyak pihak dan seketika menurunkan risk premium geopolitik yang selama ini membebani pasar.

Turunnya ketidakpastian geopolitik memicu aksi short covering dan dip-buying di berbagai kelas aset, terutama saham-saham yang sebelumnya tertekan akibat sentimen negatif dari konflik Iran. Bursa saham kawasan Asia-Pasifik pun kompak menghijau mengikuti penguatan Wall Street yang terjadi sebelumnya.

Dampak pada Harga Minyak Global

Salah satu dampak paling dramatis dari isyarat Trump tersebut adalah penurunan tajam harga minyak mentah global. Harga minyak yang sempat meroket mendekati 120 dolar AS per barel—dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan produsen minyak utama—berbalik turun tajam menuju sekitar 90 dolar AS per barel.

Penurunan ini didorong oleh dua faktor: berkurangnya sentimen risiko geopolitik, serta laporan bahwa negara-negara G7 sedang membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis untuk menambah pasokan global. Turunnya harga minyak pada gilirannya mengurangi tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang sangat sensitif terhadap pergerakan harga energi.

Bursa Wall Street Mendahului Penguatan

Sebelum IHSG rebound, bursa Wall Street di Amerika Serikat telah lebih dulu mencatat penguatan signifikan. Indeks Nasdaq Composite menguat 1,4 persen ke 22.695,95, indeks S&P 500 naik 0,8 persen ke 6.795,99, dan Dow Jones Industrial Average menguat 1,5 persen ke 47.740,95. Penguatan di Wall Street menjadi sinyal awal yang kemudian diikuti oleh bursa-bursa di kawasan Asia-Pasifik, termasuk BEI.

Dengan adanya momentum rebound ini, para analis memandang bahwa IHSG berpotensi melanjutkan pemulihan menuju level 7.500 dalam waktu dekat, asalkan tidak ada eskalasi baru dalam konflik geopolitik global dan kondisi makroekonomi domestik tetap terjaga.

Bagi investor di pasar saham Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat penting bahwa faktor eksternal—terutama kebijakan dan pernyataan pemimpin negara-negara besar seperti AS—masih memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan pasar modal domestik, terlepas dari seberapa solid fundamental ekonomi Indonesia itu sendiri.

#IHSG#pasar saham Indonesia#Trump Iran#harga minyak#bursa efek

Artikel Terkait