Ekonomi

Rupiah Bergerak Fluktuatif: Tren 'dollar to rupiah' Terdorong Sentimen Global dan Pernyataan BI

Rupiah menguat tipis terhadap dolar AS secara harian namun melemah dalam sepekan. Tekanan eksternal dan pernyataan BI bahwa rupiah 'undervalued' memicu perhatian pasar.

Rupiah Bergerak Fluktuatif: Tren 'dollar to rupiah' Terdorong Sentimen Global dan Pernyataan BI

Nilai tukar "dollar to rupiah" bergerak fluktuatif dalam sepekan terakhir: di pasar spot rupiah tercatat menguat tipis secara harian namun melemah bila dibandingkan dengan posisi pekan lalu. Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,04% pada level Rp16.888 per dolar AS, sementara berdasarkan Jisdor Bank Indonesia rupiah menguat 0,23% ke Rp16.885 per dolar. Namun secara mingguan mata uang domestik tetap menunjukkan pelemahan, yaitu sekitar 0,24–0,30% dibanding akhir pekan sebelumnya.

Tren dollar to rupiah: pergerakan dan angka pasar

Pergerakan harian dan mingguan rupiah pada periode laporan menampilkan dinamika yang dipengaruhi sentimen pasar. Menurut laporan yang dirangkum KONTAN, pada perdagangan terbaru rupiah menguat 0,04% di pasar spot ke level Rp16.888/dolar AS; catatan Jisdor Bank Indonesia menunjukkan penguatan harian 0,23% ke Rp16.885/dolar. Meski demikian, dalam hitungan mingguan rupiah melemah sekitar 0,24%–0,30% dari posisi Rp16.836/dolar pada akhir pekan sebelumnya.

Selain nilai tukar, pasar modal juga memperlihatkan korelasi pergerakan: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,72% selama tiga hari perdagangan pada 18–20 Februari 2026, ditutup pada 8.271,77, yang menunjukkan adanya aliran modal domestik meski tekanan nilai tukar tetap ada.

Faktor pemicu: sentimen geopolitik dan tekanan eksternal

Laporan media keuangan menyebutkan bahwa pergerakan rupiah pekan ini terseret oleh kombinasi sentimen geopolitik dan domestik. Tekanan eksternal, seperti ketidakpastian pasar keuangan global dan kenaikan premi risiko, menjadi salah satu pendorong utama volatilitas. Hal ini juga sejalan dengan penjelasan dari pihak Bank Indonesia yang menilai tekanan pada rupiah lebih banyak bersumber dari faktor eksternal.

Dalam tulisan kolom analis yang dimuat Kompas, disebutkan bahwa pernyataan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengenai kondisi rupiah layak dicermati. Warjiyo menyatakan bahwa rupiah saat ini "undervalued" atau berada di bawah nilai wajarnya berdasarkan fundamental. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa meski indikator makro seperti inflasi dan pertumbuhan masih terjaga, pasar valuta asing mungkin memberi penilaian yang berbeda terhadap rupiah.

Apakah rupiah 'terlalu murah'? Perspektif fundamental

Kolom di Kompas menguraikan kerangka teori nilai tukar riil dan Purchasing Power Parity (PPP) untuk menilai apakah mata uang berharga wajar. Dalam kerangka tersebut, jika nilai tukar aktual menyimpang jauh dari keseimbangan jangka panjang, baik overvalued maupun undervalued, maka dapat muncul distorsi pada perdagangan, investasi, dan stabilitas finansial.

Penilaian Bank Indonesia bahwa rupiah "undervalued" menempatkan perhatian pada gap antara fundamental domestik yang relatif kuat—seperti inflasi yang terkendali di kisaran target 2,5% plus minus 1% dan imbal hasil instrumen domestik yang masih kompetitif—dengan tekanan nilai tukar yang menunjukkan pelemahan. Kolom itu menegaskan bahwa penyebab pelemahan rupiah tidak semata-mata berasal dari kelemahan domestik, melainkan didorong oleh faktor eksternal seperti arus modal dan sentimen global.

Implikasi bagi investor, korporasi, dan kebijakan BI

Pergerakan "dollar to rupiah" yang fluktuatif memiliki implikasi praktis: bagi importir dan korporasi berdenominasi dolar, pelemahan mingguan berarti biaya impor dan pembayaran utang luar negeri bisa meningkat. Sebaliknya, eksportir dapat memperoleh keuntungan kompetitif bila rupiah relatif melemah. Untuk investor domestik, ketidakpastian nilai tukar turut mempengaruhi aliran modal, tercermin pada pergerakan IHSG yang tetap menunjukkan volatilitas namun mencatat penguatan dalam periode pendek tersebut.

Dari sisi kebijakan, pernyataan Gubernur BI tentang undervalued rupiah bisa ditafsirkan sebagai isyarat bahwa bank sentral memantau disparity antara fundamentals dan harga pasar. Bank Indonesia selama ini menggunakan instrumen seperti operasi pasar, pengelolaan cadangan devisa, dan komunikasi kebijakan untuk menstabilkan pasar valuta. Sementara itu, kolom opini juga mengingatkan pentingnya waspada terhadap premia risiko dan kemungkinan tekanan struktural jika deviasi nilai tukar berlangsung lama.

Ruang gerak ke depan: faktor yang mesti diawasi

Ke depan, beberapa faktor kunci yang perlu diwaspadai pasar meliputi dinamika geopolitik yang memengaruhi sentimen global, kebijakan moneter negara maju yang menentukan aliran modal internasional, serta data ekonomi domestik yang dapat memperkuat atau melemahkan persepsi terhadap fundamental rupiah. Komunikasi dan langkah-langkah Bank Indonesia juga dipantau ketat oleh pelaku pasar untuk menilai intensitas intervensi bila volatilitas nilai tukar meningkat.

Penguatan rupiah harian yang tercatat tidak menghapuskan risiko penurunan lebih lanjut jika tekanan eksternal kembali meningkat. Sebaliknya, konsistensi indikator makro domestik menjadi bahan penopang argumen bagi pihak yang menilai rupiah saat ini undervalued.

Meski pergerakan "dollar to rupiah" pekan ini menunjukkan penguatan tipis secara harian, gambaran mingguan menandai tekanan yang tidak bisa diabaikan. Pasar akan terus memantau kombinasi faktor eksternal dan kebijakan domestik untuk menilai apakah pelemahan mingguan hanya sementara atau mencerminkan penyesuaian yang lebih panjang terhadap nilai rupiah. Dalam konteks itu, pernyataan Bank Indonesia bahwa rupiah "undervalued" menambah dimensi penting dalam diskusi antara pasar, pembuat kebijakan, dan pelaku ekonomi tentang arah nilai tukar ke depan.

#dollar to rupiah#rupiah#Bank Indonesia#nilai tukar#pasar keuangan

Artikel Terkait