Olahraga

Sriwijaya FC Terancam Degradasi Usai Kekalahan 1-2 dari Persikad

Sriwijaya FC kembali menelan hasil buruk setelah kalah 1-2 dari Persikad Depok, memperburuk peluang mereka untuk bertahan di Liga 2 dan menempatkan klub di ujung degradasi.

Sriwijaya FC Terancam Degradasi Usai Kekalahan 1-2 dari Persikad

Sriwijaya FC kembali terpuruk setelah menelan kekalahan 1-2 dari Persikad Depok pada pekan ke-20 Putaran Ketiga Pegadaian Championship Liga 2 2025/2026, hasil yang semakin mengancam posisi mereka di zona degradasi. Kekalahan ini sekaligus memperpanjang rentetan hasil negatif klub asal Sumatera Selatan itu dan menempatkan Laskar Wong Kito dalam tekanan besar menjelang laga pekan selanjutnya melawan Sumsel United di Stadion Jakabaring.

Hasil dan jalannya pertandingan

Pertandingan yang digelar di Stadion Patriot, Bekasi, pada Jumat (20/2/2026) berakhir dengan kemenangan Persikad 2-1. Seperti dilaporkan BolaSport, Persikad memimpin lebih dulu lewat gol Bilaqshan pada menit ke-22. Sriwijaya FC sempat bangkit di babak kedua dan menyamakan skor melalui Usman Diara pada menit ke-56. Namun kemenangan Persikad ditentukan pada menit tambahan lewat gol Fikron A di menit ke-90+5.

Laporan-laporan media menyebutkan proses kebangkitan Sriwijaya sempat menjanjikan, tapi gol penalti waktu hampir usai itu memupus harapan poin bagi Laskar Wong Kito. Tribunnews juga mencatat kekalahan ini sebagai bagian dari tren buruk tim yang membuat publik dan manajemen klub semakin gelisah.

Ancaman degradasi Sriwijaya FC

Kekalahan itu membuat Sriwijaya FC berada dalam posisi berbahaya di klasemen Grup Barat Championship. BolaSport menulis kekalahan tersebut menempatkan Sriwijaya FC "di ujung tanduk degradasi ke Liga 3 musim depan." Persikad, di sisi lain, tetap berada di posisi ketujuh dengan koleksi 26 poin.

Situasi klasemen dan sisa pertandingan menjadi faktor krusial. Dengan poin yang terbatas dan catatan hasil yang buruk sepanjang musim, Sriwijaya kini harus meraih kemenangan segera untuk menghindari terperosok ke zona degradasi. Laga kontra Sumsel United di Jakabaring pekan depan disebut sebagai pertandingan penentu bagi peluang bertahan mereka.

Krisis tim: data dan perubahan pelatih

Musim ini krisis performa Sriwijaya FC tidak bisa dipandang sebelah mata. Menurut laporan Sumeks, tim baru mengumpulkan dua poin dari 19 pertandingan: dua hasil imbang dan 17 kekalahan. Produktivitas gol juga rendah, hanya 13 gol tercipta, sementara kebobolan mencapai 70 gol—selisih gol minus 57 yang menggambarkan bobot masalah pertahanan dan konsistensi tim.

Sumeks juga menyinggung beberapa perubahan yang telah dilakukan manajemen, termasuk rotasi pemain dan pergantian pelatih. Iwan Setiawan disebutkan sebagai pelatih baru yang diharapkan dapat membangkitkan performa tim setelah hasil-hasil buruk, termasuk kekalahan 0-1 dari FC Bekasi City pada 16 Februari. Selain itu, ada catatan penggunaan pemain asing seperti Zac Tyson pada putaran ketiga, namun pergantian dan susunan tim belum menghasilkan perbaikan signifikan di papan skor.

Keputusan manajemen untuk memainkan beberapa laga di kandang lawan — baik atas alasan efisiensi maupun sanksi Komdis PSSI — turut memengaruhi dinamika tim. Sumeks mencatat bahwa status tuan rumah yang tidak dimainkan di Palembang menjadi salah satu refleksi masalah administratif dan kehati-hatian manajemen di tengah krisis.

Agenda selanjutnya dan implikasi untuk klub

Sriwijaya FC dijadwalkan menghadapi klub baru asal Sumatera Selatan, Sumsel United, di Stadion Jakabaring pekan depan. Laga tersebut berpotensi menjadi titik balik atau pengunci nasib Laskar Wong Kito dalam hal kelangsungan mereka di Liga 2. BolaSport menyoroti pentingnya pertandingan ini dengan menyatakan bahwa Sriwijaya "bisa degradasi" jika hasil tak berpihak.

Selain tekanan kompetitif, implikasi degradasi akan berdampak luas: finansial klub, dukungan suporter, hingga citra sepak bola profesional di Sumatera Selatan. Manajemen dan pelatih harus merancang strategi jangka pendek untuk meraih poin, sekaligus menyiapkan perbaikan struktural bila ingin mengatasi akar masalah tim di musim mendatang.

Media lokal dan nasional juga memantau reaksi suporter dan pihak terkait jika kondisi tidak membaik. Beberapa laporan menyebut adanya kericuhan usai laga-laga tertentu dan perhatian dari Komdis PSSI terhadap aspek keamanan dan administrasi pertandingan, yang menambah kompleksitas situasi klub.

Sriwijaya FC menghadapi tekanan waktu dan ekspektasi publik untuk segera menunjukkan perbaikan. Laskar Wong Kito, julukan yang melekat pada klub, kini menunggu langkah nyata dari pemain, pelatih, dan manajemen agar musim yang suram ini tidak berujung pada degradasi yang sulit diperbaiki. Publik Sumsel akan mengikuti ketegangan berikutnya saat laga kontra Sumsel United menjadi momen penentuan nasib tim di Liga 2 musim ini.

Di luar lapangan, pembenahan menyeluruh sepertinya menjadi keniscayaan jika Sriwijaya ingin kembali menjadi kekuatan di kancah nasional—mulai dari rekonstruksi skuat, tata kelola internal, hingga perencanaan jangka panjang yang menempatkan prestasi sepak bola dan stabilitas klub sebagai prioritas utama.

#Sriwijaya FC#Liga 2#Persikad Depok#Degradasi#Sumsel United

Artikel Terkait