Nasional

AirAsia Tambah 8 Frekuensi Penerbangan di Makassar, Perkuat Peran Virtual Hub Sulawesi

AirAsia menambah delapan frekuensi pulang-pergi harian dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar mulai 7 Maret 2026, membuka akses ke empat kota Sulawesi. Langkah ini bertujuan memperluas konektivitas, dukung mudik, dan integrasi jaringan internasional.

AirAsia Tambah 8 Frekuensi Penerbangan di Makassar, Perkuat Peran Virtual Hub Sulawesi

Air Asia resmi menambah delapan frekuensi penerbangan pulang-pergi setiap hari dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar mulai 7 Maret 2026, membuka rute ke Surabaya, Kendari, Palu, dan Luwuk sebagai bagian dari strategi memperluas konektivitas ke kawasan timur Indonesia. Penambahan ini juga ditujukan untuk membantu arus mudik Lebaran 2026 dan mengintegrasikan layanan domestik dengan jaringan internasional AirAsia Group.

air asia perkuat Makassar sebagai virtual hub

Penambahan frekuensi oleh AirAsia menempatkan Makassar sebagai titik konektivitas strategis (virtual hub) untuk menghubungkan kota-kota di Sulawesi dengan jaringan domestik dan internasional. Head of Indonesia Affairs & Policy Indonesia AirAsia, Eddy Krismeidi, menyatakan bahwa pembukaan rute domestik ini merupakan upaya memperluas akses ke kawasan timur: "Ini kontribusi kami untuk menyiapkan, menambah kapasitas, membantu pemerintah dalam arus mudik, khususnya Surabaya-Makassar. Selain itu, rute baru yang dioperasikan diharapkan bisa memperluas akses pariwisata, serta membuka lebih banyak peluang bagi pergerakan masyarakat dan pelaku usaha," kata Eddy saat meresmikan penerbangan perdana.

Menurut data resmi yang diumumkan, total delapan frekuensi pulang-pergi per hari dibagi untuk empat rute: Makassar–Surabaya tiga kali sehari, Makassar–Kendari dua kali sehari, Makassar–Palu dua kali sehari, dan Makassar–Luwuk satu kali sehari. Skema frekuensi ini dirancang untuk memberi pilihan perjalanan lebih banyak bagi masyarakat di Sulawesi dan Jawa serta memperkuat konektivitas antarkota di Sulawesi.

Dampak terhadap mobilitas mudik dan pariwisata

Salah satu tujuan utama penambahan frekuensi adalah mendukung mobilitas saat musim mudik Lebaran 2026. Indonesia AirAsia berharap penambahan kapasitas ini membantu pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi lonjakan permintaan perjalanan. Selain aspek mudik, maskapai juga menekankan potensi ekonomi dan pariwisata lokal.

Pelaksana Tugas Direktur Utama Indonesia AirAsia, Achmad Sadikin Abdurachman, menyampaikan optimisme terkait integrasi jaringan: "Konektivitas ini telah terintegrasi dengan jaringan AirAsia Group, sehingga penumpang dari Luwuk, Palu, dan Kendari dapat terhubung melalui Makassar dan melanjutkan perjalanan internasional menuju Kuala Lumpur." Integrasi tersebut diharapkan membuka akses internasional lebih mudah bagi pelancong dan pelaku usaha dari Sulawesi.

Selain membuka akses, peningkatan frekuensi juga dipandang dapat mendorong geliat ekonomi daerah melalui arus orang dan barang yang lebih intens. Media menyebutkan skenario ini bertujuan memperkuat peran Makassar tidak hanya sebagai kota transit tetapi juga sebagai penggerak ekonomi regional.

Menyasar pasar besar Sulawesi: angka dan peluang

Ekspansi rute AirAsia juga didorong oleh potensi pasar domestik yang besar di Sulawesi. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, pergerakan wisatawan nusantara ke wilayah Sulawesi—termasuk Sulawesi Selatan, Tengah, dan Tenggara—mencatat lebih dari 67,4 juta perjalanan. Angka ini menjadi daya tarik utama bagi maskapai untuk meningkatkan konektivitas ke kota-kota sekunder seperti Palu, Kendari, dan Luwuk.

Pembukaan rute perdana Surabaya–Makassar yang berlangsung pada 7 Maret 2026 menggunakan nomor penerbangan QZ 734 juga menandai langkah komersial AirAsia dalam mengejar peluang tersebut. Pesawat yang tiba pada pukul 07.29 WITA membawa 110 penumpang dari Surabaya dan mendapat sambutan resmi berupa water salute di Bandara Sultan Hasanuddin.

Penguatan jaringan domestik yang terintegrasi dengan rute internasional diyakini dapat memperluas jangkauan pasar pariwisata Sulawesi, sekaligus memberi alternatif perjalanan bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada pilihan rute terbatas.

Tantangan operasional dan harapan ke depan

Meski langkah ekspansi mendapat sambutan positif, tantangan operasional tetap ada, terutama terkait pengelolaan kapasitas bandara, frekuensi penerbangan, dan koordinasi dengan pihak otoritas setempat selama periode puncak seperti mudik. Penyeimbangan antara kapasitas pesawat dan permintaan penumpang akan menjadi kunci efektivitas strategi ini.

AirAsia menekankan pentingnya sinergi dengan pemerintah daerah dan otoritas bandara agar penambahan frekuensi ini benar-benar berdampak pada kelancaran mobilitas dan peningkatan ekonomi lokal. Implementasi rute yang efisien juga akan menentukan keberlanjutan layanan menuju kota-kota sekunder.

Dengan integrasi ke jaringan AirAsia Group, rute baru dari Makassar membuka peluang bagi penumpang di Sulawesi untuk terhubung ke rute internasional, seperti Kuala Lumpur, tanpa harus terlebih dahulu kembali ke hub utama di Pulau Jawa. Harapannya, skema ini tidak hanya memudahkan perjalanan masyarakat tetapi juga mendorong arus wisatawan masuk ke Sulawesi.

AirAsia menempatkan Makassar sebagai salah satu titik penting dalam strategi jangka menengahnya untuk memperluas cakupan layanan di Indonesia Timur. Implementasi awal yang disertai sambutan resmi pada penerbangan perdana menjadi tanda bahwa maskapai melihat potensi jangka panjang di kawasan ini, meski keberhasilan penuh akan bergantung pada respons pasar dan koordinasi regulasi serta operasional di lapangan.

#AirAsia#Makassar#rute penerbangan#Sulawesi#mudik 2026

Artikel Terkait