Nasional

Quraish Shihab Doakan Prabowo: 'Kekuasaan Datang dari Tuhan' di Peringatan Nuzulul Quran

Quraish Shihab mendoakan Prabowo dan menyampaikan bahwa "kekuasaan datang dari Tuhan" saat peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara. Prabowo menyebut kepemimpinan sebagai takdir.

Quraish Shihab Doakan Prabowo: 'Kekuasaan Datang dari Tuhan' di Peringatan Nuzulul Quran

Quraish Shihab hadir dalam peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara dan dalam kesempatan memberi ceramah serta doa menyinggung hakikat kekuasaan, mengatakan "kekuasaan datang dari Tuhan" saat mendoakan Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, demikian dilaporkan Tempo. Pernyataan itu direspon Prabowo yang menyebut bahwa "kepemimpinan adalah takdir" usai mendengarkan ceramah tersebut.

Quraish Shihab dan pesan spiritual

Dalam acara peringatan Nuzulul Quran yang digelar di Istana Negara, Quraish Shihab tampil sebagai salah satu cendekiawan Muslim yang memberikan tausiyah dan doa. Menurut laporan Tempo, dalam doa yang dipanjatkan beliau menegaskan pandangannya tentang sumber kekuasaan dengan ungkapan "kekuasaan datang dari Tuhan." Ucapan ini dilontarkan saat mendoakan para pemimpin yang hadir, termasuk Prabowo.

Konteks pernyataan Quraish Shihab adalah religius dan ritualistik: Nuzulul Quran merupakan momentum religius untuk mengenang turunnya Al-Quran, sehingga ceramah dan doa biasanya berfokus pada nilai-nilai spiritual dan etika kepemimpinan. Tempo mencatat kehadiran Quraish Shihab sebagai bagian dari rangkaian acara yang dihadiri oleh sejumlah tokoh pemerintahan dan politik.

Reaksi Prabowo: kepemimpinan sebagai takdir

Setelah menyimak ceramah dan doa dari Quraish Shihab, Prabowo Subianto menyampaikan pandangannya mengenai posisi pemimpin. Dilaporkan Tempo, Prabowo mengatakan bahwa "kepemimpinan adalah takdir." Pernyataan itu disampaikan usai acara dan menjadi bagian dari interaksi antara pemimpin politik dan tokoh agama dalam forum kenegaraan tersebut.

Pernyataan Prabowo menegaskan kesamaan landasan teologis yang dikedepankan pada momen itu, yakni mengaitkan jabatan dan kewenangan dengan kehendak atau ketentuan yang lebih tinggi. Kedua ungkapan — dari Quraish Shihab dan Prabowo — sama-sama merujuk kepada gagasan bahwa jabatan publik tidak semata-mata produk kehendak manusia, melainkan juga memiliki dimensi spiritual.

Suasana dan peserta peringatan di Istana Negara

Peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara kali ini dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara. Tempo melaporkan kehadiran Menteri-menteri kabinet serta Ketua DPR Puan Maharani, selain tokoh agama termasuk Quraish Shihab. Acara tersebut merupakan tradisi kenegaraan yang sering difungsikan sebagai momen tausiyah dan doa bersama pemimpin negara.

Suasana pelaksanaan, menurut laporan, bersifat formal dan religius. Peringatan digelar di lingkungan Istana dengan protokol kenegaraan, menempatkan tausiyah dan doa sebagai inti acara. Kehadiran cendekiawan seperti Quraish Shihab menunjukkan keterlibatan tokoh agama dalam ritual kenegaraan yang bertujuan memperkuat dimensi spiritual dalam kehidupan bernegara.

Makna pernyataan di ruang publik: agama, politik, dan simbol

Ucapan-ucapan yang dilontarkan pada forum resmi seperti di Istana cenderung mendapat perhatian publik karena penggabungan antara simbol religius dan otoritas politik. Dalam kasus ini, pernyataan Quraish Shihab tentang asal muasal kekuasaan dan respons Prabowo tentang takdir kepemimpinan menghadirkan framing teologis terhadap legitimasi kepemimpinan.

Beberapa pengamat politik dan agama kerap mencatat bahwa pengaitan kekuasaan dengan kehendak ilahi dapat berfungsi pada beberapa level: sebagai pengingat moral bagi pemimpin, sebagai legitimasi simbolis di mata publik, atau sebagai bagian dari retorika religius dalam komunikasi kenegaraan. Namun, laporan Tempo sekadar mencatat peristiwa dan kutipan yang disampaikan di acara tersebut tanpa menilai implikasi politik lebih jauh.

Penting untuk membedakan antara konteks ritual keagamaan dan praktik politik sehari-hari. Meskipun pernyataan yang mengaitkan kekuasaan dengan Tuhan memiliki dimensi spiritual, implementasinya dalam tata kelola pemerintahan tetap diatur oleh konstitusi, hukum, dan mekanisme demokrasi yang berlaku.

Kedudukan acara keagamaan di Istana dan kontinuitas tradisi

Peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara bukan hal baru; tradisi serupa kerap diselenggarakan oleh pemerintahan dari berbagai periode sebagai bagian dari agenda kenegaraan yang memberi ruang bagi kegiatan keagamaan. Kehadiran tokoh agama ternama seperti Quraish Shihab menandai upaya menciptakan dialog antara nilai-nilai spiritual dan kepemimpinan nasional.

Menurut laporan media, acara tersebut dihadiri pula oleh menteri-menteri serta pimpinan lembaga negara, menegaskan statusnya sebagai forum yang menggabungkan ritual agama dan simbol kenegaraan. Forum seperti ini lazim menjadi momen untuk penguatan pesan moral kepada pejabat publik sekaligus afirmasi nilai-nilai keagamaan di ruang publik.

Pernyataan yang disampaikan pada peringatan, baik berupa doa maupun refleksi, kerap diambil dari kerangka etika keagamaan dan dimaksudkan untuk mengingatkan pemimpin tentang tanggung jawab moral dalam memimpin. Dalam hal ini, ungkapan "kekuasaan datang dari Tuhan" dan "kepemimpinan adalah takdir" menjadi bagian dari retorika moral yang dipilih untuk disampaikan di hadapan pimpinan negara.

Peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara yang dihadiri Quraish Shihab dan diikuti pernyataan Prabowo menjadi sorotan media karena menggabungkan wacana religius dengan simbol kenegaraan. Laporan-laporan media, seperti yang dihimpun Tempo, mencatat jalannya acara dan kutipan-kutipan kunci yang keluar dari forum tersebut sehingga memberi gambaran tentang bagaimana nilai-nilai keagamaan diposisikan dalam ritual kenegaraan.

Acara semacam ini menegaskan bahwa dalam praktik kenegaraan di Indonesia, unsur religius tetap menjadi bagian dari dinamika simbolik dan komunikasi publik, sambil tetap berada dalam kerangka hukum dan konstitusional negara.

#quraish shihab#prabowo#nuzulul quran#istana negara#agama

Artikel Terkait